KATA MUTIARA YG MENGANDUNG BANYAK MAKNA

Your browser does not support frame.
Orang Jawa kaya akan pepatah, biasanya mereka menggunakan pepatah atau kata-kata bijak dalam memberikan nasihat kepada sesama terutama kepada meraka yang lebih muda. Tak hanya itu, mereka juga menggunakan pepatah untuk mengkritik perilaku seseorang karena orang jawa penuh 'ewuh pakewuh' (sungkan). Mereka segan untuk menyampaikan hal yang sebenarnya dan secara langsung, di samping itu sifat ramah tamah dan andap ashor orang jawa tidak memungkinkan untuk melakukan kritikan secara langsung yang dapat menyinggung perasaan orang lain, sehingga mereka selalu menggunakan pepatah atau kata-kata bijak.

Berikut ini akan kami sajikan 12 kata mutiara kehidupan jawa yang biasa diucapkan oleh orang jawa dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai bentuk pujian maupun kritikan.

KATA BIJAK KEHIDUPAN SUKU JAWA

Mikul dhuwur, mendhem jero
(Mengangkat setinggi-tingginya, mengubur sedalam-dalamnya. Maksudnya, menilai seseorang dalam hal kebaikannya patut diunggulkan tetapi simpan kejelekan sedalam-dalamnya, janganlah disebarluaskan).

Wong Jawa nggone semu
(Orang Jawa suka tersembunyi. Maksudnya, orang Jawa itu dalam berpikir dan bersikap cenderung menggunakan kata mutiara, kata bijak, pepatah, kiasan, simbol, sanepa).

Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah
(Kerukunan membuat menjadi kokoh, bertengkar menjadikan kehancuran/rusak. Maksudnya, dalam kehidupan sehari-hari selalu rukun agar semakin kuat, jangan saling bermusuhan).

Anak polah, bapa kepradhah
(Setiap anak bertingkah, bapak akan selalu ikut bertanggung jawab. Maksudnya, sekalipun anak yang bertingkah laku bahkan tingkah lakunya menyimpang, orang tua yang bertanggung jawab).

Kacang ora ninggal lanjaran
(Orang tua dan anak diibaratkan kacang panjang dan ajir, tidak dapat dipisahkan. Tingkah laku seorang anak mencerminkan tingkah laku orang tuanya).

Emban cindhe, emban siladan
(Menggendong dengan selendang, menggendong dengan irisan bambu tipis tajam. Maksudnya, memberikan nasihat kepadara para orang tua agar jangan membedakan kasih sayang kepada semua anak-anaknya).

Cekelen iwakke, aja buthek banyune
(Tangkaplah ikannya, tapi jangan sampai keruh. Maksudnya, setiap menyelesaikan masalah janganlah diperkeruh, yang terpenting inti permasalahannya terselesaikan dengan baik).

Becik ketitik, ala ketara
(Siapa yang berbuat baik dan berbuat jahat akan ketahuan. Maksudnya, memberikan nasihat bahwa jangan takut untuk berbuat baik sekalipun terlihat jahat (jangan sebaliknya berbuat jahat tetapi nampak berbuat baik) karena sesuatu yang baik pasti akan terlihat baik sekalipun membutuhkan waktu yang lama, sedangkan sesuatu yang jahat atau buruk juga akan ketahuan di kemudian hari, hanya waktu yang bisa menjawabnya)


Aja njagakake endoge blorok
(Jangan mengharapkan ketidakpastian. Maksudnya, janganlah berangan-angan mengharapkan sesuatu yang belum pasti, diibaratkan endoge blorok (telurnya ayam blorok), ayam belum tentu bertelur tetapi sudah diharapkan telurnya).

Ana dina, ana upa
(Ada hari, ada nasi. Maksudnya, selama masih ada kehidupan kita masih bisa bekerja, sehingga kita masih bisa mendapatkan rezeki).

Ana sethithik dipangan sethithik
(Dapat sedikit, dimakan sedikit. Maksudnya, memberikan nasihat untuk selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan, caranya dengan menerima rezeki yang diberikan sekalipun sedikit harus tetap disyukuri. Berarti dalam membelanjakannya juga harus terukur).

Ora obah ora mamah
(Tidak mau bekerja, tidak dapat makan. Maksudnya, orang yang malas bekerja bakalan kelaparan. Memberikan motivasi untuk selalu bekerja mencari nafkah agar bisa mempertahankan hidup).
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

PEPATAH JAWA (WONG JAWA)

Your browser does not support frame.
Titikane wong putus ing ngelmu, basa kang bisa gawe tentrem lan bungahing liyan.
(Orang yang menguasai ilmu pengetahuan, memiliki tata bahasa yang bisa membuat orang lain senang)

Jun yen lokak kocak dene yen kebak anteng, semono uga tumrap ngelmu.
(Pepatah ini seperti pribahasa air beriak tanda tak dalam, maksudnya orang yang ilmunya sedikit banyak bertingkah sedangkan orang yang banyak ilmu lebih suka diam)

Mumpung anom ngudia laku utama.
(Mumpung masih muda berbuatlah yang terbaik)

Urip iku kudu gelem tepa selira.
(Hidup harus memiliki sikap tenggang rasa)

Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala.
(Kaya tidak berharta, menyerang sendirian. Maksudnya, hidup harus memiliki keberanian, berani menghadapi kenyataan hidup)

Digdaya tanpa aji, menang tanpa ngasorake.
(Kesaktian tanpa kekuatan, menang tanpa menghina. Maksudnya, orang yang kuat tidak harus menunjukkan kekuatannya, dan sebagai pemenang tidak boleh menghina lawan kita)

Sabar lan narimo marganing basuki, ngangsa-angsa marakake brakala.
(Bersabar dan bersyukur akan mendapatkan keselamatan)


Ngrusak wohing panggawe, ngundhuh wohing panandur.
(Orang berbuat maka akan berakibat, baik ataupun buruk.)

Ngelmu pari saya isi saya tumungkul.
(Orang yang banyak ilmu tidak sombong)

Andap asor, wani ngalah luhur wekasane.
(Rendah hati, berani mengalah berbudi luhur)

Aja wedi kangelan jalaran urip ing donya iku pancen angel.
(Jangan takut menghadapi kesulitan karena hidup di dunia itu memang susah)

Tuking kamulyan iku saka anggone sregep.
(Sumber kebahagiaan itu didapat dari kerja keras)

Sepi ing pamrih, rame ing gawe.
(Sedikit pengharapan, tetapi banyak melakukan pekerjaan)

Jagad ora mung sak godhong kelor.
(Dunia tak selebar daun kelor)

Darbe kawruh kang ora ditindakkake, bareng mati ilang tanpa tilas.
(Ilmu pengetahuan yang tidak diamalkan, ketika mati hilang tanpa bekas)

Sopo gawe nganggo, sopo nandur ngunduh.
(Siapa membuat pasti akan memakai, siapa menanam pasti akan memetik hasilnya)

Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.
(Kejahatan akan dikalahkan oleh kebenaran)

Sing sapa temen bakal tinemu.
(Siapa yang rajin akan menuai hasilnya)

Suradira hayuningrat pangruwating diyu.
(Kebenaran mengatasi kejahatan)

Aja dumeh kuwasa, tumindake daksara lan daksila marang sapada-pada.
(Jangan mentang-mentang berkuasa, bertindak sewenang-wenang terhadap sesama)

Aja dumeh pinter, tumindake keblinger.
(Jangan mentang-mentang pintar, bertindak lupa daratan)

Aja dumeh sugih, tumindake lali karo wong ringkih.
(Jangan mentang-mentang kaya, lupa sama orang lemah)

Aja dumeh menang, tumindake sewenang-wenang.
(Jangan mentang-mentang menang, bertindak sewenang-wenang)


Wong urip iku sadrema nglakoni kadya wayang ana dalange.
(Manusia hidup tinggal menjalani saja seperti wayang sudah ada dalangnya)

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
(Di depan memberi contoh, di tengah turut berperan aktif, di belakang turut mendukung)

Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa.
(Jadi orang janganlah sok tahu, tetapi jadilah orang yang tahu akan situasi dan kondisi)

Kawruh kang marakake reseping ati sasama iku kawruh donya kang mumpangati.
(Ilmu yang menyebabkan ketrentaman hati adalah ilmu dunia yang bermanfaat)

Ngelmu iku kelakone kanthi laku.
(Ilmu itu diperoleh melalui proses perjalanan)

Golek banyu apikul warih, golek geni adedamar.
(Mencari air berbekal sepikul air, mencari api berbekal pelita)
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Your browser does not support frame.
Orang Jawa dahulu kala adalah sebuah bangsa yang besar, dicirikan dengan adanya tulisan jawa yaitu sebuah karya sastra yang menyumbangkan sejarah besar bagi kehidupan di dunia, khususnya Suku Jawa itu sendiri. Mereka mampu menuangkan ide-ide dalam sebuah aksara atau tulisan yang dikenal dengan nama AKSARA JAWA. Tidak hanya itu, mereka juga kaya akan ide-ide berfalsafah yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini. Banyak dari ide-ide itu dituangkan dalam sebuah tembang atau pupuh sehingga tetap dikenal sampai sekarang.

Syair dari pupuh mengandung makna yang sangat besar dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di bumi ini. Tidak sedikit dari syair-syair itu mengandung nasehat yang kini banyak digunakan oleh masyarakat jawa sebagai pedoman dalam berperilaku dan bersosial, mereka menganggapnya sebagai sebuah pepatah atau kata-kata bijak yang dituturkan oleh seorang yang arif pada jaman nenek moyangnya. Memang setiap kata-kata bijak atau pepatah jawa mencerminkan jiwa seorang penuturnya, kata-katanya begitu bijaksana dalam mensikapi segala sesuatu. Hal ini sesuai dengan kefeodalan seorang pemimpin jawa yang begitu diagung-agungkan pada jamannya.

Berikut ini beberapa cuplikan pepatah jawa yang tertuang dalam pupuh pangkur dan pupuh kinanti. Mengandung makna sangat berarti dan mencerminkan tuturan atau nasehat dari seseorang berjiwa besar :


KATA MUTIARA JAWA - BEBERAPA CUPLIKAN DALAM PUPUH PANGKUR

Kados sampun kinodrat, bilih punika ageming ngaurip, punapa ta wonten tuhu, tiyang sepi pamrihnya, senadyan penjenenganing ratu, lan ugi brahmana pisan, tan wonten sepi pamrihnya.
(Seperti sudah ditakdirkan, bahwa pedoman hidup itu, apakah betul-betul ada, orang tidak punya pamrih, walaupun beliaunya raja, dan juga sekalipun brahmana, tidak ada yang tidak punya pamrih)

Nadyan nggenya kalepatan, pamrih wau mung halus kebuntel daging, tindaking weweka iku, saya lampah kang awrat, umpamine dadosa ngulama guru, kebatinan sesaminya, yekti tan uwal sing pamrih.
(Walaupun tempatnya salah, pamrih itu harus halus yang terbungkus daging, jalannya perencanaan itu, melaksanakannya lebih berat, misalnya menjadi guru ulama, sesamanya kebatinan, pasti tidak akan lepas dari pamrih)

Mengsah pamrih tandhing aprang, sarana tan kendhat anggenya teteki, neger kersaning Hyang Agung, kabeh sesampunira, panjenengane katleyek myang kabentus, ing tawang kesandhung rata, eling yang mung titah yekti.
(Musuh bertujuan perang tanding, dengan selalu tidak pernah lepas bertapa, mempertanyakan keinginan Hyang Agung, semua setelah itu, beliau tersangkut dan terbentur, di langit tersandung tanah datar, ingat bila hanya seorang hamba Allah)

  • Mengandung makna bahwa setiap manusia hidup itu pasti memiliki pamrih, siapa saja tanpa kecuali, baik itu seorang pemimpin (seorang raja) ataupun seorang ulama sekalipun semuanya pasti memiliki pamrih dalam setiap melakukan suatu hal, karena pamrih itu merupakan kodrat manusia dan sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Namun, sekalipun itu tidak baik ketika melakukan sesuatu hal penuh dengan pamrih tetap harus dilakukan dengan rapi. Orang-orang jawa menganggap bahwa orang dengan penuh pamrih itu manusiawi.


  • KATA MUTIARA JAWA - BEBERAPA CUPLIKAN DALAM PUPUH KINANTI

    Sapa temen dha tinemu, tinemonan ing pamburi, jer basuki mawa beya, beya budi luhur yekti, sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.
    (Siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan, mendapatkannya pada akhir, bila ingin sejahtera harus berusaha, usaha berbudi luhur, semua kejahatan akan terkalahkan, oleh kebijaksanaan dengan penuh maaf)

    Kang temen pangudinipun, mring bebener laras adil, lan timbang ingkang sanyata, iku oncekane sayekti, yen winastan Kyia Ageng Sela, wasis nyekel bledeg thathit.
    (Yang sungguh berupaya, pada kebenaran yang seimbang dan adil, yaitu pertimbangan nyata, itulah arti sesungguhnya, seperti yang disebut Kyai Ageng Sela, dapat dengan mudah memegang petir)

    Sanungging ing karonipun, lawang bledheg kori masjid, Masjid Demak amrapat, karepe kang yoso kori, kita dimen dha elinga, yaiku ingkang sesanti.
    (tergambar di jendelanya, pintu petir jendela masjid, Masjid Demak rengat, keinginan yang membuat jendela, agar kita selalu ingat, yaitu yang berpetuah)

    Tetela kang pamrih iku, lumrah tumraping dumadi, nangging ta sabisa-bisa, kudu laras ing pribadi, dadi kuat lan sentosa, marang wewengkon sayekti.
    (Ternyata yang punya tujuan itu, biasa terhadap sikap makhluk, tetapi juga sedapat mungkin, harus selaras dengan pribadi, menjadi kuat dan sentosa, kepada wilayahnya sendiri)

    Ajeg sisiram kang trubus, kanthi tirta marta warih, ya toyaning kalbu ingkang, wus menga tumiyung yekti, saiyeg marang mring gegeyongan, myang kayun kayungyun yekti.
    (Tetap disiram benih itu, dengan air kehidupan, ya airnya dari kalbu, telah terbuka serta terwujud, bersikap bersatu pada cita-cita, yang sangat diharapkan)

    Tetap marsudi kang tulus, mardawaning budaya hadi, anglelatih buditama, mrih rahayu sayekti, lire iku sanyatanya, manggon ing kalbu sejati.
    (Tetap berusaha dengan tulus, selama budaya bagus, melatih budi yang utama, agar selalu selamat, ibarat yang sesungguhnya, di dalam kalbu sejati)

  • Mengandung makna bahwa setiap melakukan sesuatu hal harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh agar apa yang dicita-citakan dapat segera terwujudkan dengan baik. Dengan niat yang sungguh-sungguh hal yang mustahil (di luar kemampuan) pun bisa tercapai, Namun harus juga diimbangi dengan kerja keras, karena pada hakekatnya segala hal yang bersifat baik itu pasti akan mengalahkan keburukan. Maksudnya segala sesuatu yang kita lakukan harus diniati untuk kebaikan dan dalam melaksanakannya harus dengan tekad dan kemauan yang kuat. Dengan demikian entah itu lambat ataupun cepat pasti akan segera tercapai apa yang dicita-citakan.

  • Demikianlah beberapa nasehat orang jawa yang tertuang dalam sebuah tembang atau pupuh jawa. Mengungkap perilaku manusia secara realistis yang tersirat dalam pupuh pangkur, dan memberi petuah yang sangat bijaksana dalam melakukan suatu hal yang kita cita-citakan yaitu dengan niat dan tekad yang kuat yang tersirat dalam pupuh kinanti. Syair yang disampaikan pada kedua pupuh tersebut mencerminkan kehidupan manusia secara nyata.
    Read more »
    These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
    • Digg
    • Sphinn
    • del.icio.us
    • Facebook
    • Mixx
    • Google
    • Furl
    • Reddit
    • Spurl
    • StumbleUpon
    • Technorati

    Your browser does not support frame.
    Peribahasa merupakan ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu,  bidal, pepatah. Beberapa diantaranya merupakan perumpamaan yaitu perbandingan makna yang sangat jelas karena didahului perkataan “bak”, “laksana”, “bagai”, “umpama”, dan sebagainya. Kebanyakan peribahasa berisikan sindiran secara halus ataupun pepatah yang mengandung hikmah nasehat. Berikut ini adalah beberapa peribahasa beserta artinya.
    (A)
    Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.
    Perilaku seorang anak, biasanya mencontoh dari orang tuanya.
    Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam
    Tidak enak makan dan minum,  sebab arti sangat terganggu.
    Adakah dari telaga yang jernih, mengalir air yang keruh?
    Orang-orang yang baik biasanya mengeluarkan kata-kata yang baik juga.
    Air susu dibalas dengan air tuba.
    Suatu kebaikan ternyata dibalas suatu keburukan.
    Ayam bertelur di atas padi kelaparan, itik berenang di air kehausan.
    Orang yang tinggal di negeri yang kaya, kalau tidak pandai berusaha akan tetap melarat.
    Ayam bertelur sebutir pecah kabarnya ke seluruh negeri, penyu bertelur beribu-ribu seorangpun tiada tahu.
    Bila orang kecil mendapat untung sedikit, sekampung tahu, tapi bila orang kaya memperoleh untung besar, seorangpun tiada yang tahu.
    Ayam berkokok harikan siang.
    Sudah ternyata, tanda pasti.

    Anak badak dihambat-hambat.
    Dengan sengaja mencari bahaya.
    Asal berisi tembolok, senang hati.
    Asal cukup sandang pangan, anak hatinya senang.
    Anak dipangku, kemenakan dibimbing, orang sekampung dipertenggangkan.
    Anak dan kemenakan dibela dan dipimpin ke jalan yang baik.
    Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.
    Bila melaksanakan sesuatu pekerjaan dalam kampung dan negeri, hendaknya berendi kepada adat dan agama.
    Adat lama, pusaka usang.
    Adat dari dahulu kala yang tetap tiada berubah-ubah.
    Air tenang, menghanyutkan.
    Hal orang yang pendiam, tetapi berilmu, sebab itu janganlah dianggap enteng saja.
    Air jernih ikannya jinak.
    Negeri yang aman tenteram sentosa dan penduduknya ramah-ramah.
    Air dicincang tiada putus.
    Sanak saudara yang berbantah itu, tidak akan menjadikan perceraian.
    Air beriak, tanda tak dalam.
    Orang yang banyak bualnya, biasanya pembohong tiada berilmu.
    Awak yang tidak pandai menari dikatakan lantai yang terjungkat.
    Tak tahu mengerjakan sesuatu pekerjaan, tetapi orang-orang lainlah yang disalahkan.
    Awal dikenang, akhir tidak, alamat badan akan binasa.
    Pada waktu muda hendaklah mengingat bekal untuk hari tua.
    Anjing menyalak tiada menggigit.
    Orang yang suka menggertak-gertak tidak akan sampai mendtngkan bahaya pada orang lain.
    Asam di gunung, garam di laut, berjumpa dalam belanga.
    Perihal dua orang yang tiada berkenalan dan berjuhan tempat, akhirnya bertemu menjadi suami istri.
    Arang habis besi binasa.
    Pekerjaan yang telah banyak menghabiskan tenaga dan biaya tetapi usaha itu tidak berhasil.
    (B)
    Belakang parangpun jika diasah akan tajam.
    Orang yang bodohpun apabila rajin dan tekun belajar pasti akan pandai.
    Bayang-bayang sepanjang badan.
    Pengeluaran hendaklah disesuaikan dengan pendapatan.
    Bertepuk sebelah tangan tiada akan berbunyi.
    Suatu perbuatan, perjanjian itu tiada akan terlaksana bila hanya datang dari ebelah pihak saja.
    Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
    Berat ringan ditanggung bersama-sama.
    Bulat air di pembuluh, bulat kata dimufakat.
    Setelah berunding bersama-sama akhirnya jadi sepakat.
    Barangsiapa yang berkotek, dialah yang bertelur.
    Siapa yang menjawab sindiran orang, maka ialah yang membuat pekerjaan yang disindirkan tersebut.
    Bermain air basah bermain api hangus.
    Setiap orang akan menanggung akibat perbuatannya.
    Binatang tahan malu, manusia tahan kias.
    Mengajar manusia itu cukup dengan sindiran atau kias saja.
    Berani karena benar, takut karena salah.
    Orang yang benar berani, takut tentu salah.
    Besar pasak daripada tiang.
    Pengeluaran lebih besar dari penghasilan.
    Berjenjang naik, bertangga turun.
    Sesuatu pekerjaan hendaklah dikerjaan menurut peraturannya.
    Bagai air di daun talas.
    Pendirian yang selalu berubah-ubah.
    Bagai hujan (air) jatuh ke pasir.
    Memberi kepada seseorang yang tidak ada bekasnya.
    Bagai punguk rindukan bulan.
    Yang tidak mungkin dapat tercapai.
    Bagai Belanda minta tanah.
    Permintaan yang tidak habis-habisnya, karena lob dan tamak.
    Bagai mengayuh biduk hilir.
    Seseorang yang sangat gembira mengerjakan sesuatu pekerjan yang sangat mudah.
    Bagai mendapat durian runtuh.
    Mendapat keuntungan besar yang tidak disangka sama sekali.
    Bagai kucing dibaakan lidi.
    Seseorang yang sangat takut, karena berbuat kesalahan.
    Bagai roda pedati, sekali ke atas, sekali ke bawah.
    Kehidupan manusia tidak tetap, kadang-kadang kaya, kadang-kadang jatuh miskin.
    Bagai aur dengan tebing.
    Orang yang bersahabat karib, bertolong-tolongan dan tak dapat dipisahkan.
    Bagai kacang direbus satu.
    Anak muda yang tidak memiliki sopan-santun, duduk tegak dengan gelisah.
    Bagai itik pulang petang.
    Sangat lambat perjalanannya.
    Berjalan peliharakan kaki, berbicara peliharakan lidah.
    Harus diingat bahwa langkah yang salah dan perkataan yang jelek dapat mendatangkan kesusahan.
    Baik berputih tulang daripada berputih mata.
    Lebih baik mati daripada menanggung malu.
    Bertanam tebu di bibir.
    Seseorang yang manis tutur bahasanya karena hendak melakukan sesuatu tujuan tertentu.
    Bersatu teguh, bercerai runtuh.
    Kita kuat kalau bersatu, tetapi lemah kalau berpecah belah.
    Berguru kepalang ajar, bagi bunga kembang tak jadi.
    Segala pengetahuan yang tidak sempurna dipelajari, tidak akan mendatangkan manfaat.
    (C)
    Cacing hendak menjadi ular.
    Orang yang hida dina dan miskin, meniru kelakuan orang yang mulia lagi kaya.
    Cepat kaki ringan tangan.
    Cekatan dan lekas mengerjakan sesuatu pekerjaan.
    (D)
    Dalam laut boleh diduga, dalam hati siapa tahu.
    Tidak dapat kita ukur atau kita ketahui pikiran seseorang.
    Dalam dua tengah tiga, telunjuk lurus kelingking berkait.
    Seorang yang tidak jujur dan dapat dipercaya.
    Datang tampak muka, pergi tampak punggung.
    Datang dan prgi haruslah sama baiknya, dengan cara yang sopan dan tenggang rasa.
    Dimana tiada rotan, akarpun berguna.
    Bila dalam suatu negeri tak ada orang yang pandai, maka orang agak cerdik sangat terpandang.
    Ditepuk air didulang, terpercik muka sendiri.
    Bila diceritakan keaiban sendiri atau kecelakaan keluarganya, tentulah kita juga yang akan mendapat malu.
    Disangka panas sampi petang, kiranya hujan tengah hari.
    Disangka akan baik terus, tiba-tiba datng malapetaka.
    Darah setampuk pinang, umur setahun jagung.
    Seseorang yang masih muda dan bodoh, belum berpengalaman.
    Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah.
    Daripada melihat sesuatu yang menyakitkan hati, lebih baik mati.
    Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
    Di mana kita tinggal, hendaklah mengikuti adat-istiadatnya.
    Disangka pulut, ditanak berderai.
    Seperti orang pandai, ternyata orang bodoh.
    (E)
    Esa hilang dua terbilang.
    Berbuat sesuatu dengan amat berani.
    (G)
    Guru makan berdiri, murid kencing berlari.
    Contoh seorang guru yang jelek akan mudah dicontoh oleh muridnya, yang kemungkinan perbuatan murid tidak senonoh dan lebih berat dari kejelekan guru itu.
    Garam di laut asam di gunung, bertemu dalam belanga.
    Jodoh itu tidak mengindahkan bangsa, derajat dan kekayaan.
    Gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas.
    Ada tanda-tanda sesuatu yang akan terjadi, maka dari itu hendaklah kita berhati-hati.
    Gajah bertengger di pelupuk mata tiada tampak, kuman di seberang lautan tampak.
    Kesalahan orang yang sedikit tampak, tetapi kesalahan sendiri yang sangat besar, tiada kelihatan.
    Gajah mati meninggalkan gading.
    Orang besar atau orang baik kalau mati, selalu disebut juga kebaikannya.
    (H)
    Hidup segan mati tak mau, bagai kerakap di atas batu.
    Orang yang hidupnya sangat menderita.
    Hari pagi dibuang-buang, hari petang dikejar-kejar.
    Akibat tak pandai membagi waktu, maka dalam melakukan suatu pekerjaan selalu tergesa-gesa.
    Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang juga.
    Budi uang baik tidak akan dilupakan orang.
    Harimau mati meninggalkan belang.
    Orang yang pandai apabila mati meninggalkan jasa.
    Harimau menyembunyikan kuku.
    Orang pandai berlaku seperti orang yang dungu.
    Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.
    Mengharapkan untung besar yang belum tentu didapat, keuntungan sedikit yang telah ditangan disia-siakan.
    Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai.
    Barangsiapa ingin kaya hendaklah berhemat, dan teliti menabung, barangsiapa ingin pandai hendaklah rajin belajar.
    Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri (namun lebih baik di negeri sendiri).
    Walaupun mulia dan senangnya di perantauan, namun lebih terasa senang dan bahagia di daerahnya sendiri.
    Hilang tak tentu rimbanya.
    Hilang lenyap tanpa meninggalkan bekas.
    (I)
    Ibarat menghela rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan terserak.
    Putusan yang adil dan bijaksana melegakan yang kalah maupun yang menang.
    Ibarat ayam gadis bertelur.
    Tidak tetap dalam mengerjakan pekerjaan.
    Ibarat burung dalam sangkar, mata lepas badan terkurung.
    Tidak kekurangan dalam makanan dan minuman tetapi tidak bebas.
    Ingat sebelum kena, hemat sebelum habis.
    Sebelum terlambat, hendaklah hati-hati dalam mengeluarkan uang agar jangan mendapat kesusahan kelak.
    (J)
    Jika kain panjang sejengkal, jangan laut hendak diduga.
    Pengetahuan yang sedikit, janganlah meniru orang pandai, supaya kita jangan dicemoohkan orang.
    Jika takut dilembur pasang, jangan berumah ditepi pantai.
    Bila tidak senang dengan kebisingan jangan tinggal di tempat ramai.
    Jauh panggang dari api.
    Pekerjaan masih lama akan selesai.
    Jinak-jinak merpati.
    Seorang wanita yang kelihatannya mau menurut keinginan seseorang, padahal kalau bersungguh-sungguh ia menjauh.
    Jangan dibangunkan ular tidur.
    Musuh yang sudah diam jangan dibangkitkan amarahnya.
    (K)
    Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah.
    Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tidak ada bandingnya dan lestari sepanjang masa, namun kadang-kadang kasih sayang anak kepada ibunya hanya sedikit.
    Kalah jadi abu, menang jadi arang.
    Dalam sesuatu perselisihan kalah atau menang sama saja, sebab kedua-duanya sama-sama rugi
    Katak hendak menjadi lembu.
    Seseorang yang hendak meniru perbuatanorang lain, yang dia sendiri tidak akan mampu.
    Ke lurah sama menurun, ke bukit sama mendaki.
    Anggota perkumpulan itu hendaklah seia sekata. Sama-sama susah dan sama-sama senang.
    Kepala sama berbulu, pendapat berlain-lain.
    Tiap-tiap orang itu mempunyai kesenangan yang berbeda-beda.
    Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
    Karena kesalahan yang kecil, maka segala kebaikan yang banyak akan hilang.
    (L)
    Lempar batu sembunyi tangan.
    Melakukan pekerjaan yang mengakibatkan keonaran kemudian berusaha menghilangkan jejak.
    Atau, senang mengerjakan sesuatu, tetapi tidak mau bertanggungjawab.
    Lunak gigi dari lidah.
    Seseorang yang berkata manis dan merendah karena akan mempunyai tujuan permintaan.
    Lidah tiada bertulang.
    Amat mudah mengeluarkan celaan dan kritikan.
    Lain padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya.
    Tiap-tiap daerah berlainan adat-istiadatnya.
    Licin bagai belut.
    Belum pernah ditipu karena cerdik lagi waspada.
    (M)
    Manis bagai madu, pahit bagai empedu.
    Kalau baik sangat baiknya, tetapi bila marah, sangat marahnya.
    Malu-malu kucing.
    Pura-pura malu.
    Malu bertanya sesat di jalan.
    janganlah kita malu-malu menanyakan sesuatu hal kepada orang lain agar kita tidak tersesat.
    Membasuh arang di muka.
    Menghapus rasa malu.
    Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
    Sudah takdir, tak dapat dihindarkan lagi.
    Musuh dalam selimut.
    Musuh yang berasal dari sanak saudara atau kawan sendiri.
    Musuh jangan dicari-cari bertemu pantang dielakkan.
    Permusuhan jangan dicari-cari, tetapi bila laan memancing-mancing juga, janganlah mundur.
    Menangguk di air keruh.
    Suka mencari keuntungan dalam keadaan yang kacau-balau.
    Menjilat air liur.
    Dahulu dicela, sekarang dipuji-puji lagi.
    Masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang kerbau menguak.
    Di mana kita tinggal hendaklah mengikuti adat-istiadat setempat.
    Masuk di telinga kanan, keluar di telinga kiri.
    Tidak menuruti nasehat yang sudah diberikan.
    Mempertinggi tempat jatuh.
    Mencari alasan yang bukan-bukan untuk memperberat kesalahan.
    Makan hati berulam jantung.
    Amat bersusah hati akibat perbuatan orang lain.
    Musang berbulu ayam.
    Orang jahat berlaku seperti orang baik.
    Membuang garam ke laut.
    Memberi bantuan uang kepada orang yang kaya raya.
    Meludah ke langit tertimpa muka sendiri juga.
    Melawan orang yang berkuasa atau kaya, kita akan mendapat susah.
    Membangkitkan batang terpendam.
    Menimbulkan kembali nama baik atau keluarga atau negara yang tercela.
    Mumbang jatuh kelapa jatuh.
    Maut tidak memandang umur, baik tua atau muda dapat mati.
    Mencabik baju di dada.
    Membuka rahasia pribadi sendiri.
    Menuhuk kawan seiring, menggunting dalam lipatan.
    Mencelakakan teman sendiri dengan sembunyi-sembunyi atau khianat.
    Menegakkan benang basah.
    Mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sulit dipertahankan.
    Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.
    Bila menceritakan cela kaum keluarga sendiri, tentu kita sendiri yang akan mendapat malu.
    (N)
    Nasib seperti ayam, mengais dahulu baru makan.
    Seseorang yang miskin, bekerja keras dahulu untuk mendapatkan sesuap nasi.
    Nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri.
    Sangat berduka cita.
    Nasi sudah menjadi bubur, tak dapat dikedang lagi.
    Kesalahan yang amat disesalkan karena tak dapat diperbaiki.
    (O)
    Orang makan nangka, awak kena getahnya.
    Seseorang yang mendapat kesusahan dalam suatu perkara, padahal ia tidak tahu dalam urusan itu.
    Obat jerih pelerai demam.
    Yang sangat disayangi.
    (P)
    Pagar makan tanaman.
    Orang yang wajib memelihara tetapi malah merusaknya.
    Panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari.
    Kebaikan yang banyak, hilang seketika akibat kesalahan yang fatal.
    Pikir itu pelita hati.
    Sebelum mengerjakan sesuatu pekerjaan, hendaklah dipikirkan dahulu baik buruknya dan langkah-langkahnya.
    Pandai berminyak air.
    Pandai mempergunakan sesuatu yang kurang berharga, tetapi hasilnya sangat memuaskan.
    Pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan.
    Sesuatu hal yang telah dipertimbangkan masak-masak.
    Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.
    Supaya tidak menyesal nantinya, maka pikirlah masak-masak sebelum dikerjakan.
    Pucuk dicinta ulam tiba.
    Mendapat sesuatu yang diperlukan.
    (R)
    Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.
    Bila ingin pandai, rajin-rajinlah belajar, bila ingin kaya, hemat dan berhati-hatilah.
    Rezeki elang tak kan didapat oleh musang.
    Rezeki seseorang tidak akan diserobot oleh orang lain.
    Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
    seia sekata, susah senang sama-sama dirasakan.
    Rugi menentang laba, jerih menentang boleh.
    Biarlah bersusah payang, asal mendapatkan yang dicita-citakan.
    Sekerat ular, sekerat belut.
    Seseorang yang tak dapat dipercayai akibat pendiriannya tidak tetap.
    Sekepal digunungkan, setitik dilautkan.
    Pemberian seseorang walaupun sedikit hendaklah dijunjung tinggi.
    Sehari selembar benang, lama-lama menjadi sehelai kain.
    Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.
    Selapik seketiduran, sebantal sekalang hulu.
    Bersahabat karib.
    Seperti mengadu ujung penjahit.
    Perlawanan antara dua orang yang sama-sama cerdik, akibatnya tidak ada yang kalah.
    Seperti duri dalam daging.
    Selalu ingat perasaan yang kurang menyenangkan pikirannya.
    Seperti cacing kepanasan.
    Seseorang yng sangat gelisah sebab mendapat malu.
    Seperti telur diujung tanduk.
    Belum tetap dalam suatu pekerjaan, bila salah sedikit saja dapat diberhentikan.
    Seperti abu di atas tunggul.
    Seseorang yang tidak mempunyai kekuasaan dalam suatu pekerjaan, bila berbuat salah dapat diberhentikan.
    Seperti air di daun talas.
    Cepat hilang tak berbekas.
    Seperti anak ayam kehilangan induk.
    Kesatuan yang pecah-pecah karena ditinggalkanoleh pemimpinnya.
    Seperti anjing dengan kucing.
    Dua orang yang tak pernah akur.
    Seperti pungguk rindukan bulan.
    Seseorang yang merindukan sesuatu yang sulit diperolehnya.
    Seperti pinang dibelah dua.
    Dua orang yang mirip betul.
    Seperti api dalam sekam.
    Kekecewaan yang dipendam terus, lama-lama akan membahayakan.
    Seperti bergantung di rambut sehelai.
    Selalu cemas dan sangat tipis harapannya untuk mendapat pertolongan.
    Seperti ilmu padi makin berisi, makin tunduk.
    Makin tinggi ilmunya makin halus budi pekertinya.
    Sepandai-pandai tupai melompat, sekali akan jatuh juga.
    Sepandai-pandai orang, barang sekali tentu akan ada pekerjaan yang salah.
    Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.
    Sekali ketahuan perbuatan yang tidak baik, seumur hidup orang tak mempercayai.
    Setinggi-tinggi terbang bangau, hinggapnya ke kubangan juga.
    Sejauh-jauh merantau, akhirnya besuk kembali ke kampungnya juga.
    (T)
    Tangan mencencang, bahu memikul.
    Siapa yang membuat salah, harus menanggung akibatnya.
    Tegak sama tinggi, duduk sama rendah.
    Sama tinggi kedudukannya.
    Tong kosong, nyaring bunyinya.
    Orang yang besar omongnya itu, biasanya orang yang tidak berilmu.
    Tertumpang di biduk tiris.
    Sudah terlanjur mengikuti pekerjaan yang merugikan.
    Telunjuk lurus, kelingking berkait.
    Seseorang yang lahirnya kelihatan baik, tetapi sebenarnya jahat hatinya.
    Tinggal kulit pembalut tulang.
    Orang yang merana sehingga badannya kurus.
    Tak ada gading yang tak retak.
    Tak ada sesuatu pekerjaan yang sempurna.
    Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.
    Peraturan yang tak pernah berubah.
    Tak air talang dipancung.
    Untuk menyampaikan sesuatu maksud yang baik, tidak malu melakukan apa saja.
    Tak emas bungkal di asah, tak kayu jejang dikeping.
    Dikala memerlukan uang, diusahakan sedapat-dapatnya walaupun dengan jalan menjual barang, asal maksud tercapai.
    Tiba diperut dikempiskan, tiba dimata dipicingkan.
    Seseorang pemimpin yang tidak adil, bila keluarganya yang salah ia pura-pura tidak tahu, tetapi bila orang lain yang bersalah, terus mencelanya.
    (U)
    Ular berkepala dua.
    Kadang-kadang memihak kawan, kadang-kadang memihak lawan.
    (Y)
    Yang merah saga, yang kurik kundi, yang indah bahasa, yang baik budi.
    Walaupun cantik rupawan, tetapi bila tidak berbudi, tidak akan dihormati.
    Yang pekak pelepas bedil, yang buta penghembus lesung, yang lumpuh penghalau ayam.
    Keahlian tiap-tiap orang dapat dimanfaatkan berdasarkan keahliannya masing-masing.
    (Z)
    Zaman beralih, musim bertukar.
    Sesuatu itu akan berubah, menurut kehendak zaman dan kodrat Tuhan.
    Sumber: 1160 peribahasa indonesia
    Read more »
    These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
    • Digg
    • Sphinn
    • del.icio.us
    • Facebook
    • Mixx
    • Google
    • Furl
    • Reddit
    • Spurl
    • StumbleUpon
    • Technorati

    Hit-Id.com - PTC Indonesia
    Desing Downloaded From Free Blogger Templates | Free Website Templates | Free PSD Graphics